Road to Expertise…

by on May 1, 2010

Salah satu temen saya bertanya…kenapa sih tenaga edukatif itu perlu meneliti dan mempubish tulisannya ke mimbar akademik dan mengapa tenaga edukatif itu diukur dari produktivitasnya menghasilkan “paper”nya…apa ngak cukup dengan mengajar ?.. munkin tulisan dari sisi pribadi ini dapat membantu menjawab itu dan intropeksi diri saya :)..

Sebagai seorang Tenaga edukatif  (dosen) terdapat “framework” yang disebut TRIDHARMA perguruan tingg (pengajaran, penelitian dan pengabdian). Kalau pengajaran sudah jelas melakukan “tatap muka / sharing” didepan kelas dalam penjadwalan tertentu, sedangkan pengabdian dilakukan kegiatan yang menghasilkan “sharing” tepat guna antara akademisi dan lingkungan sekitar yang tepat guna.

Sedangkan Penelitian yang biasanya cukup “sulit” dilakukan, terutama yang sibuk dengan jabatan struktural. Penelitian biasanya dalam bidang ilmu tertentu sesuai dengan konsentrasi dan minat dosen tsb, biasanya penelitian diungkapkan dalam sebuah paper yang “harus” dipresentasikan dan dituangkan, seperti :  (1) journal (internasional / nasional) dan (2) proceeding conference (internasional / nasional)

Isi dari tulisan PAPER tersebut adalah : paparan, deskripsi, penjelasan, ilustrasi dsb..yang harus merujuk dari penelitian sebelumnya oleh peneliti lain dan harus UPDATE…makanya diperlukan “dana” untuk penelitian ini…yang tulisan tsb akan didapat dari rangkuman / hasil yang didapat dari percobaan di LAB / Lapangan dan akses ke Journal Internasional yang cukup mahal aksesnya (IEEE, Springer, Proquest, Science Direct). penelitian bisa dilakukan individu atau secara team work yang biasanya akan disesuaikan dengan bidang ilmu dan konsentrasinya, karena beberapa kasus penelitian dilakukan dari berbeda area ilmu.

Jika dilihat dari sisi lain, makanya ada master / PhD by research, seorang peneliti / research yang melakukan penelitian dalam bidang tertentu..makanya nanti jika para PhD berhasil mempertahankan thesisnya dapat dikategorikan yang katanya “pakar” dalam bidang tertentu bukan pakar segalanya d bidangnya…hal ini dikarenakan, kepakarannya didapat dari penelitian yang terus menerus tanpa henti dalam karirnya…dan mungkin hingga dia menjadi seorang Professor…makanya professor disebut gurubesar :)…dan Profesor  itu pakar dibidangnya.

Biasanya para calon PhD harus secara kontinu menelurkan “pemikiran baru” atau semacamnya dalam sebuah “tulisan” yang disebut paper di sebuah journal / conferences tadi..PhD normalnya selama 3 tahun yang sudah termasuk penulisan thesis / desertasi.

Namun untuk dapat “lolos” dan masuk ke dalam journal / conference harus melewati “peer” reviewer yang kompeten dibidangnya (biasanya yang menjadi reviewer paper yang dikirimkan akan diperiksa oleh DOCTOR / PROF dibidang itu..dan biasanya dari belahan dunia lain yang memeriksanya). Makanya untuk mendapatkan PhD harus menelurkan journal agar “kepakarannya” itu diakui seluruh dunia dan bukan lokal pemikirannya, dan ini tidak mudah…untuk melakukan dan memulai penelitian sudah sangat sulit, belum lagi mengolah dataset yang telah didapat, apalagi “menumpahkannya” dalam sebuah paper berbahasa inggris yang bukan bahasa sehari-hari kita, belum lagi terdapat istilah journal indexing, refered dan sebagainya.

Dengan banyaknya paper dari universitas tersebut, mau tidak mau akan meningkatkan brand universitas tersebut dan akan menaikan rangkingnya dimata dunia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

6 + 1 =