H-Index Scopus, WoS & Google Scholars

by on November 2, 2013

Saat ini di UNSRI sedang hangat tentang perhitungan H-Index dan jumlah paper dosen UNSRI di Internasional, dari hasil pencarian singkat didapatkan perbedaan antara jumlah H-Index di Google Scholars, WoS dan SCOPUS, hal ini disebabkan oleh bebeberapa point, diantaranya:

  1. Paper orang lain yg mencitasi paper kita journal nya tersebut tidak terindex di SCOPUS
  2. Paper orang lain yg mencitasi paper kita juga telah terindex di SCOPUS, namun penulis tersebut salah dalam menuliskan nama kita / judul papernya atau bahkan tahunnya, makanya penggunaan Endnote / Mendelay sudah harus menjadi standar dalam penulisan reference di karya ilmiah.
  3. SCOPUS product ELSEVIER (representatif dari benua EUROPA) dan WoS ISI produk Thomson Reuters USA, jadi ini ada faktor hegomoni yg bersaing, semua journal yg mempunyai WoS ISI impact factor biasanya akan terecord / index di SCOPUS, namun tidak demikian sebaliknya, tidak semua terindex scopus ada impact factor dari ISI.

Jadi memang parameter SCOPUS juga tidak bisa dijadikan patokan mentah-mentah, namun saat ini dia yg memegang kendali karena sistem mereka sudah siap untuk itu, dimana database SCOPUS memang lebih besar dari WoS ISI dan SCOPUS ELSEVIER telah melakukan inovasi serta berafiliasi dengan beberapa pengembang lainnya, lihat saja SCIMAGO (SJR) yang membuat dan menghitung Journal Ranking versi mereka, dimana SCIMAGO dibuat oleh team pengembang dari Universitas Granada Spanyol dan diberikan kepercayaan oleh SCOPUS untuk membuat datamart dari database mereka. Serta Mendelay yang diakusisi oleh ELSEVIER beberapa waktu lalu untuk memperkuat barisan ELSEVIER dalam komunitas research dunia.

Disisi lain perhitungan Google Scholar tidak dapat menghitung jika papernya yang dicitasi terindex di SCOPUS karena SCOPUS menutup rapat database mereka (terkecuali jika si author menampilkan paper PDF nya di blog / open access lainnya seperti eprints).

Begitupun sebaliknya SCOPUS hanya menghitung citation yg terindex di database mereka sendiri, mereka cuek dengan Google Scholar yang memang menurut saya google lebih cepat perhitungannya dan lebih luas jangakauannya, dimana dia akan menghitung citasi yang terjadi di Internet, namun memang ada cara CHEAT / TRIK untuk bisa melejitkan h-index di Google, makanya institusi dunia tidak menerima h-index Google.

Sementara itu, WoS ISI juga mengeluarkan H-index versi mereka namun kurang begitu dikenal karena memang sebuah Journal sangat sulit untuk dapat lolos disana dengan saringan yang sangat ketat, begitu juga paper sangat strict untuk lolos accepted di journal tersebut, selain itu juga SCIENCE DIRECT sangat mahal sebagai portal untuk diakses dan didownload full papernya.

Saat ini ada Research ID untuk melihat H-Index penulis di WoS ISI, berbeda dengan Author ID di SCOPUS dimana research ID harus dibuat manual oleh si authornya agar bisa menjadi “public” karena tidak otomatis tersedia, inilah bedanya mengapa SCOPUS lebih di senangi. Seperti hal nya SCOPUS, WoS ada mekanisme perhitungan jumlah citasinya dan dengan interface Research ID maka hal itu dapat dilihat oleh orang lain tanpa harus login. WoS akan menghitung yang ada didalam database mereka sendiri dan cuek dengan database SCOPUS apalagi Google.

Sebagai contoh saya ilustrasikan H-Index dari salah satu dosen UNSRI, Assoc. Prof. Dr. Iskhaq Iskandar dimana beliau salah satu periset yang produktif. Namanya di SCOPUS muncul dengan jumlah 12 paper dan mempunyai H-Index 4 dengan total citation 47.

Beliau telah ada di Research ID, dengan jumlah 15 paper, H-Index 4, dengan total citation 48.

Kita lihat papernya yang berjudul “Intraseasonal Kelvin waves along the southern coast of Sumatra and Java” yang publish tahun 2005 di Journal of Geophysical Research-Oceans (Wiley), yang ber-impact 3.174. Paper tersebut di SCOPUS telah dicitation sebanyak 22 kali, sedangkan di ISI dicitation sebanyak 19 kali, namun di Google Scholar paper dengan judul yang sama ditemukan telah di citation sebanyak 29 kali.

Kesimpulannya, nilai H-index SCOPUS, WoS ISI dan Google bisa jadi berbeda besarnya, dan pasti akan didapati nilai yg lebih tinggi di google karena sifatnya yang general, free dan open. Apalagi Google saat ini sedang berinovasi untuk melaju kedepan dengan kekuatan content yang dimilikinya saat ini. Bisa jadi Google akan menjadi besar dan membuat standard sendiri.