Publikasi Indonesia [4]

by on October 10, 2013


Alhamdulilah, setelah lama menunggu bagi para peneliti dan dosen Indonesia akhirnya tim PAK pusat telah memberikan rambu dan acuan awal tentang kesimpang-siuran bagaiamana pedoman dalam memberikan standar karya Ilmiah yang digunakan untuk proses akademik. Dengan adanya ini maka dapat mengurangi perdenatan, minimal multi tafsir dari beberapa pihak.

DIKTI sendiri akhirnya mengakui seperti yang disebutkan di laman tersebut :

  1. ISI Knowledge -Thomson Reuter (USA )
  2. SCOPUS (Netherland), http://www.scimagojr.com
  3. Microsoft Academic Search, http://academic.research.microsoft.com
  4. Ulrich’sPeriodicals Directory (Proquest)
  5. Academic Search Complete (EBSCO)
  6. Zentralblatt MATH ( Springer – Verlag)
  7. DOAJ (Lund University Swedia)
  8. Peridoque (EP Lausanne Switzerland)
  9. SHERPA/RoMEO (Nottingham University, UK)
  10. Index Copernicus(Poland)
  11. Google Scholar

Pandangan saya, beberapa lembaga indexing / abstracting diatas sudah sangat “mumpuni” terutama ISI dari Thomson Reuters dan SCOPUS, dimana dua ini adalah pemain utama dalam publikasi dunia dan seakan-akan menjadi “dewa” dan standard bagi yang lain. Seperti dalam tulisan saya sebelumnya, sebuah journal untuk dapat masuk ke SCOPUS atau bahkan mendapatkan nilai Impact dari ISI bukan perkara yang mudah.

Jika dilihat dari point (2) SCOPUS, mengapa pihak DIKTI membuat URL nya ke SCIMAGO? bukan pada langsung URL website SCOPUS, padahal dari info yang didapat sebuah Journal baru yang masuk ke SCOPUS belum tentu langsung muncul di SCIMAGO. Mereke perlu waktu untuk membuat rankingnya walaupun paper di journal tersebut muncul di SCOPUS. Tapi ini mungkin karena tidak semua PT di Indonesia dapat mengakses ke SCOPUS.

Semoga dengan telah di buatnya aturan ini dapat menjadi pedoman kita sebagai peneliti dan dosen Indonesia untuk memilih dan menimbang Journal yang tepat sebelum mengirim naskah ilmiahnya.